Banjarsari, (HR) - Malang benar nasib Nek Muimah (74), warga
Dusun Citaman RT 10 RW 02, Desa Cicapar, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten
Ciamis, Jawa Barat. Nenek tua yang mengalami kebutaan selama 8 tahun silam itu
kini kondisi kehidupannya sungguh memilukan.
Di masa tuanya, Nek Muimah harus meratapi hidup seorang diri
dengan beban hidup yang sangat berat. Sejak ditinggal suaminya 8 tahun silam.
Nek Muimah menderita penyakit glukoma hingga mengakibatkan kebutaan pada kedua
matanya.
Himpitan ekonomi membuat kehidupan Nek Muimah kian terpuruk
dan sungguh memprihatinkan. Di dalam rumah gubuk berukuran kecil dan tanpa
fasilitas sarana air bersih, membuat Nek Muimah terpaksa harus menimba air
bersih dengan menempuh jarak lebih dari 100 meter. Bahkan kondisi semakin parah
setelah diketahui Nek Muimah sering mengonsumsi air mentah dalam kesehariannya.
“Mau bagaimana lagi nak, Nenek tidak bisa apa-apa. Untuk
berjalan saja nenek hanya menggunakan insting, meraba-raba bahkan tak jarang
terbentur benda-benda keras. Jujur saja, sudah ada tiga tahun lebih nenek
selalu minum air mentah yang nenek ambil dari sumur,” katanya saat ditemui
rekan-rekan Matahati, Selasa (26/02/2019).
Melihat kondisi Nek Muimah, Komunitas Matahati Banjarsari
mengaku sangat prihatin. Komunitas ini pun mengutuk keras sikap pemerintah yang
terkesan melakukan pembiaran kepada masyarakatnya.
“Terus terang saja, saat ini kami merasa sangat prihatin,
banyak temuan mengenai lansia yang hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan.
Terlebih kondisi lansia seperti ini terkesan tidak diperhatikan oleh
pemerintah,” kata Ketua Koordinator Matahati Banjarsari Abid Buldani, Selasa
(26/02/2019).
Abid mengaku sudah menindaklanjuti kondisi Nek Muimah.
Pihaknya pun berkoordinasi dengan pemerintahan desa setempat. Abid menuturkan,
pihaknya sudah menggali informasi mengenai keberadaan Nek Muimah, janda cerai
mati yang menderita kebutaan semenjak 8 tahun silam.
“Kami merasa terkejut dan ikut sakit hati ketika mendengar
keterangan dari beliau. Selama ini beliau tak pernah tersentuh bantuan apapun
dari pemerintah. Dari hasil koordinasi kemarin, kami merasa sangat kecewa dan
jengkel karena pemerintah desa seakan tidak respon dan menutup mata. Mereka
(Pemdes) pun terlihat seperti kikuk saat kami datang untuk meminta keterangan
soal kondisi Nek Muimah,” katanya.
Selama lima tahun ini, kata Abid, Nek Muimah hidup seorang
diri karena tidak mempunyai anak. Dengan keadaan kondisi buta, Nek Muimah
bertahan hidup hanya mengandalkan bantuan dari saudaranya yang kini menderita
stroke.
Yang membuat pihaknya sedih, kata Abid, untuk memenuhi
kebutuhan konsumsi air, Nek Muimah harus berjalan sekitar 100 meter lebih dari
tempat tinggalnya. Malahan sering kali dan hampir sudah jadi kebiasaan mengonsumsi
air mentah untuk minum sehari-hari.
“Ya Allah betapa sakit rasa hati ini, apalagi setelah kami
telusuri, bahkan hati kami sempat dongkol saat beliau mengaku tidak pernah
mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah. Beliau tidak mempunyai kartu kesehatan
gratis dan beliau pun lolos dari bantuan program BPNT. Sungguh ironis sekali
nasib beliau,” katanya.
Setelah mendapatkan fakta-fakta mengenai kondisi Neh Muimah,
Abid menambahkan, Komunitas Matahati mengajak dan mengetuk hati lingkungan
sekitar, terutama pemuda Karang Taruna Desa Cicapar. Alhamdulilah sudah
terjalin kesepakatan untuk sama-sama membantu Nek Muimah.
“Rencananya, kami sama-sama akan membuatkan bantuan MCK dan
memperbaiki tempat tinggal Nek Muimah,” katanya.
Kepala Desa Cicapar, Sarjo, saat dihubungi Koran HR, Selasa
(26/02/2019), tidak menampik kondisi kehidupan Nek Muimah. Namun Sarjo
menegaskan, pihaknya membantah melakukan pembiaran kepada Nek Muimah.
“Jika kami dianggap membiarkan, itu jelas tidak benar.
Karena dalam hal ini, kami selaku pemerintahan desa sudah berulangkali
melakukan pengajuan atas nama Nek Muimah. Namun itu dia tadi, ajuan yang kami
lakukan belum pernah terealisasi hingga saat ini. Padahal jelas, kami sudah
mengusulkannya. Tapi sayang, data yang turun itu tetap data-data lama juga,”
katanya.
Menurut Sarjo, sebelumnya Nek Muimah sudah pernah
mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah, tapi entah mengapa kesininya data
Nek Muimah jadi hilang. Kedepan, pihaknya akan mengajukan kembali datanya agar
Nek Muimah mendapatkan bantuan dari pemerintah.
Petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK)
Banjarsari, Emas Kurnianingsih, mengaku, pihaknya baru mendapatkan laporan
mengenai kondisi Nek Muimah.
“Kami harus mengetahu hal ini setelah ada pengaduan dari
rekan-rekan Matahati. Sebelumnya memang pihak kami tidak pernah mendapatkan
pengaduan atau laporan dari pihak pemerintah setempat. Tapi, Insya Allah, kami
akan mengajukan permohonan agar Nek Muimah bisa masuk dalam data penerima
bantuan sosial. Namun tentunya, dalam pengajuan itu tidak bisa langsung
terealisasi. Semuanya butuh proses dan waktu. Kami juga kemarin sudah meminta
agar pihak desa segera membuat pengajuan,” katanya.
Dalam hal seperti ini, terang Emas, pihaknya memang
mempunyai batas kemampuan. Namun, dengan lemahnya koordinasi dari bawah, maka
terjadilah hal seperti ini. Padahal pihaknya selalu mewanti-wanti kepada
seluruh aparatur desa di wilayah Kecamatan Banjarsari untuk lebih peka dengan
kondisi warganya.
“Namun, ya itu dia tadi, meski hal itu sudah dilakukan, tapi
ternyata masih banyak bermunculan persoalan sosial seperti yang terjadi
sekarang ini,” katanya.
Untuk menanggulangi krisis sosial yang terjadi seperti
sekarang, kata Emas, pihaknya telah melakukan kerjasama dengan komunitas
Matahati untuk melakukan penggalangan dana. Pihaknya bersama Matahati akan
mengajak donatur untuk ikut saling membantu terhadap sesama. (suherman).
Source:
Harapan Rakyat, Edisi 596, 27 Februari - 5 Maret 2019,
Terbit Setiap Rabu, Hlm. 1 dan 7.