• About
  • Sitemap
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Contact

Berbagi Itu Indah

Berbagi pengetahuan berdasarkan pengalaman dan dari berbagai sumber.

  • Home
  • Menu1
    • Submenu1
    • Submenu2
    • Submenu3
    • Submenu4
  • Menu2
    • Submenu1
    • Submenu2
  • Menu3
  • Menu4
  • Menu5
  • Menu6
Home » Pernak-Pernik » Bertahun-tahun, Nek Muimah Konsumsi Air Mentah

Bertahun-tahun, Nek Muimah Konsumsi Air Mentah

Banjarsari, (HR) - Malang benar nasib Nek Muimah (74), warga Dusun Citaman RT 10 RW 02, Desa Cicapar, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Nenek tua yang mengalami kebutaan selama 8 tahun silam itu kini kondisi kehidupannya sungguh memilukan.



Di masa tuanya, Nek Muimah harus meratapi hidup seorang diri dengan beban hidup yang sangat berat. Sejak ditinggal suaminya 8 tahun silam. Nek Muimah menderita penyakit glukoma hingga mengakibatkan kebutaan pada kedua matanya.

Himpitan ekonomi membuat kehidupan Nek Muimah kian terpuruk dan sungguh memprihatinkan. Di dalam rumah gubuk berukuran kecil dan tanpa fasilitas sarana air bersih, membuat Nek Muimah terpaksa harus menimba air bersih dengan menempuh jarak lebih dari 100 meter. Bahkan kondisi semakin parah setelah diketahui Nek Muimah sering mengonsumsi air mentah dalam kesehariannya.

“Mau bagaimana lagi nak, Nenek tidak bisa apa-apa. Untuk berjalan saja nenek hanya menggunakan insting, meraba-raba bahkan tak jarang terbentur benda-benda keras. Jujur saja, sudah ada tiga tahun lebih nenek selalu minum air mentah yang nenek ambil dari sumur,” katanya saat ditemui rekan-rekan Matahati, Selasa (26/02/2019).

Melihat kondisi Nek Muimah, Komunitas Matahati Banjarsari mengaku sangat prihatin. Komunitas ini pun mengutuk keras sikap pemerintah yang terkesan melakukan pembiaran kepada masyarakatnya.

“Terus terang saja, saat ini kami merasa sangat prihatin, banyak temuan mengenai lansia yang hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan. Terlebih kondisi lansia seperti ini terkesan tidak diperhatikan oleh pemerintah,” kata Ketua Koordinator Matahati Banjarsari Abid Buldani, Selasa (26/02/2019).

Abid mengaku sudah menindaklanjuti kondisi Nek Muimah. Pihaknya pun berkoordinasi dengan pemerintahan desa setempat. Abid menuturkan, pihaknya sudah menggali informasi mengenai keberadaan Nek Muimah, janda cerai mati yang menderita kebutaan semenjak 8 tahun silam.

“Kami merasa terkejut dan ikut sakit hati ketika mendengar keterangan dari beliau. Selama ini beliau tak pernah tersentuh bantuan apapun dari pemerintah. Dari hasil koordinasi kemarin, kami merasa sangat kecewa dan jengkel karena pemerintah desa seakan tidak respon dan menutup mata. Mereka (Pemdes) pun terlihat seperti kikuk saat kami datang untuk meminta keterangan soal kondisi Nek Muimah,” katanya.

Selama lima tahun ini, kata Abid, Nek Muimah hidup seorang diri karena tidak mempunyai anak. Dengan keadaan kondisi buta, Nek Muimah bertahan hidup hanya mengandalkan bantuan dari saudaranya yang kini menderita stroke.

Yang membuat pihaknya sedih, kata Abid, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi air, Nek Muimah harus berjalan sekitar 100 meter lebih dari tempat tinggalnya. Malahan sering kali dan hampir sudah jadi kebiasaan mengonsumsi air mentah untuk minum sehari-hari.

“Ya Allah betapa sakit rasa hati ini, apalagi setelah kami telusuri, bahkan hati kami sempat dongkol saat beliau mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah. Beliau tidak mempunyai kartu kesehatan gratis dan beliau pun lolos dari bantuan program BPNT. Sungguh ironis sekali nasib beliau,” katanya.

Setelah mendapatkan fakta-fakta mengenai kondisi Neh Muimah, Abid menambahkan, Komunitas Matahati mengajak dan mengetuk hati lingkungan sekitar, terutama pemuda Karang Taruna Desa Cicapar. Alhamdulilah sudah terjalin kesepakatan untuk sama-sama membantu Nek Muimah.

“Rencananya, kami sama-sama akan membuatkan bantuan MCK dan memperbaiki tempat tinggal Nek Muimah,” katanya.

Kepala Desa Cicapar, Sarjo, saat dihubungi Koran HR, Selasa (26/02/2019), tidak menampik kondisi kehidupan Nek Muimah. Namun Sarjo menegaskan, pihaknya membantah melakukan pembiaran kepada Nek Muimah.

“Jika kami dianggap membiarkan, itu jelas tidak benar. Karena dalam hal ini, kami selaku pemerintahan desa sudah berulangkali melakukan pengajuan atas nama Nek Muimah. Namun itu dia tadi, ajuan yang kami lakukan belum pernah terealisasi hingga saat ini. Padahal jelas, kami sudah mengusulkannya. Tapi sayang, data yang turun itu tetap data-data lama juga,” katanya.

Menurut Sarjo, sebelumnya Nek Muimah sudah pernah mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah, tapi entah mengapa kesininya data Nek Muimah jadi hilang. Kedepan, pihaknya akan mengajukan kembali datanya agar Nek Muimah mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Banjarsari, Emas Kurnianingsih, mengaku, pihaknya baru mendapatkan laporan mengenai kondisi Nek Muimah.

“Kami harus mengetahu hal ini setelah ada pengaduan dari rekan-rekan Matahati. Sebelumnya memang pihak kami tidak pernah mendapatkan pengaduan atau laporan dari pihak pemerintah setempat. Tapi, Insya Allah, kami akan mengajukan permohonan agar Nek Muimah bisa masuk dalam data penerima bantuan sosial. Namun tentunya, dalam pengajuan itu tidak bisa langsung terealisasi. Semuanya butuh proses dan waktu. Kami juga kemarin sudah meminta agar pihak desa segera membuat pengajuan,” katanya.

Dalam hal seperti ini, terang Emas, pihaknya memang mempunyai batas kemampuan. Namun, dengan lemahnya koordinasi dari bawah, maka terjadilah hal seperti ini. Padahal pihaknya selalu mewanti-wanti kepada seluruh aparatur desa di wilayah Kecamatan Banjarsari untuk lebih peka dengan kondisi warganya.

“Namun, ya itu dia tadi, meski hal itu sudah dilakukan, tapi ternyata masih banyak bermunculan persoalan sosial seperti yang terjadi sekarang ini,” katanya.

Untuk menanggulangi krisis sosial yang terjadi seperti sekarang, kata Emas, pihaknya telah melakukan kerjasama dengan komunitas Matahati untuk melakukan penggalangan dana. Pihaknya bersama Matahati akan mengajak donatur untuk ikut saling membantu terhadap sesama. (suherman).

Source:
Harapan Rakyat, Edisi 596, 27 Februari - 5 Maret 2019, Terbit Setiap Rabu, Hlm. 1 dan 7.
Posted by Matahariku91 on Rabu, 27 Februari 2019 - Rating: 4.5
Title : Bertahun-tahun, Nek Muimah Konsumsi Air Mentah
Description : Banjarsari, (HR) - Malang benar nasib Nek Muimah (74), warga Dusun Citaman RT 10 RW 02, Desa Cicapar, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciami...

Share to

Facebook Google+ Twitter

0 Response to "Bertahun-tahun, Nek Muimah Konsumsi Air Mentah"

Posting Komentar

Posting Lama
Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Copyright © 2012 Berbagi Itu Indah - All Rights Reserved
Design by Mas Sugeng - Powered by Blogger